Kualitas udara di kawasan metropolitan seperti Jakarta sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan dan konsentrasi para pelajar. Gedung sekolah yang berada di tengah kepadatan lalu lintas cenderung terpapar polusi udara yang cukup tinggi, sementara ruang terbuka hijau sangat terbatas. Menyikapi realitas ini, para siswa di SMPN 14 Jakarta tidak tinggal diam. Mereka melakukan sebuah inovasi cerdas dengan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat. Inisiatif mereka yang paling menonjol adalah ketika mereka mulai rancang ‘vertical garden’ otomatis yang ditempatkan secara strategis di koridor dan di dalam area belajar.
Konsep taman tegak ini bukan sekadar dekorasi dinding biasa. Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk secara aktif pasok oksigen di ruang kelas dan menyerap polutan berbahaya seperti karbon monoksida dan debu mikro. Mengingat keterbatasan lahan yang ada di sekolah, para siswa memilih sistem vertikal yang tidak memakan banyak tempat. Uniknya, sistem ini dikendalikan oleh mikrokontroler yang telah diprogram oleh para siswa sendiri. Melalui kemampuan mereka rancang ‘vertical garden’ otomatis, pemeliharaan tanaman menjadi jauh lebih efisien karena sistem penyiraman dan pemberian nutrisi diatur berdasarkan sensor kelembapan tanah yang bekerja secara mandiri tanpa campur tangan manual yang berlebihan.
Dalam proses pembangunannya, siswa SMPN 14 Jakarta memilih jenis tanaman yang memiliki daya serap polutan tinggi namun tetap mudah dirawat di lingkungan dalam ruangan. Tanaman seperti lidah mertua (Sansevieria) dan sirih gading ditata sedemikian rupa pada modul-modul vertikal. Hasilnya, upaya untuk pasok oksigen di ruang kelas mulai menunjukkan dampak positif pada performa belajar siswa. Guru-guru melaporkan bahwa siswa merasa lebih segar dan tidak cepat mengantuk saat pelajaran berlangsung, karena kadar oksigen yang lebih melimpah dan suhu ruangan yang terasa lebih sejuk secara alami. Ini adalah bukti nyata bagaimana desain interior yang berwawasan lingkungan dapat merubah suasana psikologis dan biologis sebuah sekolah.
Keunggulan teknis dari hasil karya mereka dalam rancang ‘vertical garden’ otomatis ini juga terletak pada efisiensi air. Sistem ini menggunakan metode sirkulasi tertutup, di mana sisa air siraman akan ditampung kembali dalam bak di bagian bawah dan digunakan kembali untuk siklus berikutnya. Dengan demikian, sekolah tidak boros air meskipun memiliki ribuan tanaman hijau.