Transisi menuju ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan telah menciptakan kebutuhan mendesak akan talenta yang memiliki keterampilan di bidang green jobs. Untuk memenuhi permintaan ini, diperlukan strategi mempersiapkan generasi muda yang komprehensif, mulai dari bangku pendidikan hingga kesiapan di dunia kerja. Dengan demikian, strategi mempersiapkan generasi ini akan menjadi kunci dalam mengisi kekosongan talenta di sektor-sektor yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Implementasi strategi mempersiapkan generasi yang matang adalah investasi untuk masa depan bangsa.
Michael Susanto dari Tanoto Foundation menyoroti bahwa meskipun minat kaum muda terhadap pekerjaan hijau sangat tinggi, masih ada kendala dalam bentuk kurangnya edukasi yang merata, investasi, komitmen, dan kapasitas pengajaran. Hal ini menghambat kemampuan masyarakat untuk memenuhi permintaan pekerjaan hijau yang terus meningkat. Oleh karena itu, diperlukan strategi mempersiapkan generasi yang melibatkan berbagai pihak, terutama institusi pendidikan tinggi.
Pilar Strategi Mempersiapkan Generasi
Untuk membekali generasi muda dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk green jobs, beberapa pilar strategi harus diterapkan:
- Penyelarasan Kurikulum Pendidikan dengan Kebutuhan Industri Hijau:
- Perguruan tinggi harus proaktif dalam memperbarui dan mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan. Ini berarti bukan hanya menambah mata kuliah tentang lingkungan, tetapi juga menanamkan aspek hijau ke dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknik, pertanian, ekonomi, hingga ilmu sosial.
- Contohnya, program studi teknik dapat fokus pada energi terbarukan atau efisiensi sumber daya, sementara program studi pertanian dapat menekankan pada praktik pertanian berkelanjutan dan organik. Peta okupasi nasional green jobs yang mencakup 191 pekerjaan hijau di lima area fungsi kunci (pertanian, manufaktur, konstruksi, energi terbarukan, dan pariwisata) juga menjadi referensi penting.
- Meningkatkan Kapasitas Pengajar dan Fasilitator:
- Dosen dan pengajar harus memiliki pemahaman mendalam tentang green jobs dan isu-isu keberlanjutan. Pelatihan berkelanjutan dan program pertukaran dengan praktisi industri akan sangat membantu dalam meningkatkan kapasitas pengajaran mereka.
- Ini memastikan bahwa materi yang disampaikan relevan dan membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis.
- Mendorong Kolaborasi Lintas Disiplin dan Sektor:
- Solusi untuk masalah keberlanjutan seringkali kompleks dan membutuhkan pendekatan multidisiplin. Institusi pendidikan harus mendorong kolaborasi antar fakultas dan departemen, serta kemitraan erat dengan industri, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah.
- Forum seperti Lestari Summit yang diadakan pada Agustus 2024 adalah wadah penting bagi para pemimpin dan praktisi untuk bertukar ide dan mempromosikan kolaborasi demi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
- Fokus pada Keterampilan Praktis dan Proyek Berbasis Industri:
- Selain pengetahuan teoretis, pengalaman praktis sangat penting. Perguruan tinggi perlu menyediakan lebih banyak kesempatan magang, proyek berbasis masalah riil di industri, dan program inkubasi bagi startup yang berfokus pada solusi hijau.
- Ini akan membantu mahasiswa mengembangkan green skills seperti kemampuan manajerial operasi, pemantauan teknis dan legal, serta keterampilan dalam daur ulang dan pengurangan emisi.
Dengan mengimplementasikan strategi mempersiapkan generasi ini secara holistik, Indonesia dapat mencetak tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing global di sektor pekerjaan hijau, sekaligus berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan.